Tugas Ekonomi Mikro
Resume pasar monopolistik dan oligopolistik
Nama : Hamka Jamal
Nim : D31121263
Prodi : MNA gol C
A. Pengertian pasar monopilistik
Pasar Monopolistik adalah salah satu bentuk pasar di mana
terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang serupa tetapi memiliki
perbedaan dalam beberapa aspek. Penjual pada pasar monopolistik tidak terbatas,
namun setiap produk yang dihasilkan pasti memiliki karakter tersendiri yang
membedakannya dengan produk lainnya. Contohnya adalah : sabun, shampoo,
pasta gigi, dll. Meskipun fungsi semua pasta gigi sama yakni untuk membersihkan
gigi, tetapi setiap produk yang dihasilkan produsen yang berbeda memiliki ciri
khusus, misalnya perbedaan aroma, perbedaan warna, kemasan, dan lain-lain.
B. Karakteristik Pasar Monopolistik
Pasar
Monopolistik memiliki ciri-ciri yang melekat , yaitu :
1. Terdapat banyak produsen atau penjual. Meskipun demikian, pasar ini tidak memiliki produsen
atau penjual sebanyak pasar persaingan sempurna dan tidak ada satu pun produsen
yang mempunyai skala produksi yang lebih besar dari produsen lainnya.
2. Adanya Diferensiasi Produk. Sifat ini merupakan sifat yang sangat penting untuk
dapat membedakan mana pasar persaingan monopolistik dan mana pasar persaingan
sempurna . Seperti yang telah kita ketahui bahwa pasar persaingan sempurna
seluruh perusahaan nya memproduksi produk yang sama. Oleh karena itu susah
untuk membedakan produk suatu perusahaan dengan perusahaan yang lain. Sedangkan
dalam pasar persaingan monoplistik tidak susah untuk membedakan produk
dari masing-masing perusahaan, karena perbedaan corak(different
product) pada produk tersebut. Apabila kita lihat secara fisik suatu
product , akan tanpak jelas perbedaan tersebut. Maka kita dapat membedakan
mana produk suatu perusahaan dengan product perusahaan yang lainnya.
Di samping perbedaan dalam bentuk fisik , juga terdapat perbedaan dalam bentuk
bungkus atau pembungkusan product, dan ada pula yang berbeda dalam cara
membayar barang yang akan di beli. Akibat dari berbagai macam perbedaan ini , barang
yang di produksi oleh perusahaan pasar monopolistis ini tidak
bersifat barang pengganti sempurna akan tetapi ia bersifat barang
pengganti yang dekat.
3. Produsen Dapat mempengaruhi harga. Berbeda dengan Pasar Persaingan Sempurna, dimana
harga terbentuk berdasarkan mekanisme pasar, maka pasar monopolistik dapat
mempengaruhi harga meskipun tidak sebesar pasar oligopoli dan monopoli.
4. Produsen dapat keluar masuk pasar. Hal ini dipengaruhi oleh laba ekonomis, saat
produsen hanya sedikit di pasar maka laba ekonomisnya cukup tinggi. Ketika
produsen semakin banyak dan laba ekonomis semakin kecil, maka pasar menjadi
tidak menarik dan produsen dapat meninggalkan pasar.
5. Promosi penjualan harus aktif. Dalam pasar persaingan monopolistis harga bukanlah
penentu utama dari besarnya pasar dari perusahaan- perusahaan dalam pasar
persaingan monopolistis. Pada pasar ini memungkinkan suatu perusahaan menarik
banyak pelanggan walaupun harga barang produksinya berharga tinggi. Bahkan
sebaliknya , suatu perusahaan tidak mudah menarik banyak pelanggan dengan harga
barang produksi yang relatif rendah. Pada pasar ini harga bukan merupakan
pendongkrak jumlah konsumen, melainkan kemampuan perusahaan menciptakan citra
baik dimata konsumen, sehingga dapat menimbulkan fanatisme terhadap produk.
Karenanya, iklan dan promosi memiliki peran penting dalam merebut dan
mempertahankan konsumen.
C. Keuntungan dan Kerugian Pasar Monopolistik
Pasar Monopolistik memiliki
keuntungan sebagai berikut :
- Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan bagi konsumen untuk dapat memilih produk yang terbaik baginya.
- Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong produsen untuk selalu melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya.
- Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk selektif dalam menentukan produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat konsumen loyal terhadap produk yang dipilihnya.
- Pasar ini relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar kebutuhan sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik.
Selain itu, Pasar Monopolistik juga memiliki kelemahan
sebagai berikut :
- Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan yang tinggi, baik dari segi harga, kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki modal dan pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari pasar.
- Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk ke dalam pasar monopolistik, karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala ekonomis yang cukup tinggi.
- Pasar ini mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan meningkatkan biaya produksi yang akan berimbas pada harga produk yang harus dibayar oleh konsumen.
A. Analisis Struktur Monopsoni di Tingkat Petani
Misalkan di tingkat petani terdapat pedagang yang melakukan transaksi dengan petani dalam struktur monopsoni. Dalam struktur ini diasumsikan pedagang mempunyai kekuasaan penuh terhadap komoditi yang dijual petani, tetapi pedagang berada pada struktur pasar persaingan murni pada transaksi dengan pasar komoditi pertanian secara agregat (pedagang tak dapat mempengaruhi pasar komoditi pertanian secara agregat, tapi hanya menguasai transaksi di tingkat petani). Selain itu untuk memudahkan analisis, diasumsikan tidak terdapat biaya pemasaran dan pengolahan sehingga harga di pedagang sama dengan harga di pasar sentra pro-dusen. Dengan demikian dari penyeder-hanaan tersebut maka dapat digambarkan seperti pada Gambar 1

Gambar 1.
Pembentukan Harga pada Petani, Pedagang dan Pasar komoditi pertanian pada Pasar
"Monopsoni"
Keterangan :
SS = Kurva penawaran di pasar komoditi pertanian
DD = Kurva permintaan di pasar komoditi pertanian
D'D' = Kurva permintaan di pasar komoditi pertanian
setelah berubah
Pps = Harga komoditi pertanian di pasar komoditi pertanian
P'ps = Harga komoditi pertanian di pasar komoditi pertanian
setelah perubahan permintaan
Qps = Jumlah yang di perjual-belikan di pasar sentra produsen
Q'ps = Jumlah komoditi pertanian yang di perjual-belikan di pasar komoditi pertanian setelah perubahan permintaan
Ppp = Harga komoditi pertanian di tingkat pedagang
P'pp = Harga komoditi pertanian di tingkat pedagang setelah perubahan permintaan
Qpp = Kuantitas komoditi pertanian yang dijual pedagang
Q'pp = Kuantitas komoditi pertanian yang dijual pedagang setelah perubahan permintaan
Ppt = Harga komoditi pertanian di tingkat petani
P'pt = Harga komoditi pertanian di tingkat petani
Qpt = Kuantitas komod-iti pertanian yang dijual petani
Q'pt = Kuantitas komod-iti pertanian yang dijual petani setelah perubahan permintaan
MCpt = Biaya marjinal usahatani milik petani
ACpt = Biaya rata-rata usahatani milik petani
MCpp = Biaya marjinal usaha pedagang
ACpp = Biaya rata-rata usaha pedagang
SS = Kurva penawaran di pasar komoditi pertanian
DD = Kurva permintaan di pasar komoditi pertanian
D'D' = Kurva permintaan di pasar komoditi pertanian
setelah berubah
Pps = Harga komoditi pertanian di pasar komoditi pertanian
P'ps = Harga komoditi pertanian di pasar komoditi pertanian
setelah perubahan permintaan
Qps = Jumlah yang di perjual-belikan di pasar sentra produsen
Q'ps = Jumlah komoditi pertanian yang di perjual-belikan di pasar komoditi pertanian setelah perubahan permintaan
Ppp = Harga komoditi pertanian di tingkat pedagang
P'pp = Harga komoditi pertanian di tingkat pedagang setelah perubahan permintaan
Qpp = Kuantitas komoditi pertanian yang dijual pedagang
Q'pp = Kuantitas komoditi pertanian yang dijual pedagang setelah perubahan permintaan
Ppt = Harga komoditi pertanian di tingkat petani
P'pt = Harga komoditi pertanian di tingkat petani
Qpt = Kuantitas komod-iti pertanian yang dijual petani
Q'pt = Kuantitas komod-iti pertanian yang dijual petani setelah perubahan permintaan
MCpt = Biaya marjinal usahatani milik petani
ACpt = Biaya rata-rata usahatani milik petani
MCpp = Biaya marjinal usaha pedagang
ACpp = Biaya rata-rata usaha pedagang
Pada struktur pasar monopsoni di tingkat petani, pedagang adalah pe-nentu
harga. Pada struktur monopsoni pedagang akan menetapkan harga sama dengan
biaya rata-rata usahatani. Penetapan harga tersebut lebih rendah dari pada
harga di pasar komoditi pertanian. Akibatnya Ppt lebih rendah daripada
Pps wa-laupun tidak ada biaya pemasaran maupun pengolahan. Perbedaan
harga ini disebut sebagai eksploitasi "monop-soni", di mana pedagang
mendapat "rent seeking" atau ke-un-tungan karena
"monopsoni". Keadaan ini jelas akan me-rugikan petani dan akan
menurunkan pendapatan pe-ta-ni. Apabila harga di pasar komoditi pertanian
meningkat dari Pps menjadi P'ps, kenaikan harga di tingkat pe-tani hanya
meningkat dari Ppt menjadi P'pt. Hal itu disebab-kan dalam pasar
"monopsoni", pedagang adalah penentu harga, sehingga harga di tingkat
petani lebih dipenga-ruhi oleh penetapan harga peda-gang dibandingkan dengan
harga pasar. Dengan demikian walaupun terjadi kenaikan harga di pasar
komoditi pertanian, kenaikan harga tersebut lebih terserap kepada keuntungan
pedagang dibandingkan dengan penyerapan untuk kenaikan pendapatan petani.
Alternatif yang telah banyak dikemukakan oleh para analis ekonomi pertanian untuk perbaikan posisi tawar petani dari kondisi monopsoni tersebut umumnya adalah (1) Menggantikan peran pedagang dengan lembaga lain, yaitu Koperasi Unit Desa, (2) Para petani membentuk Koperasi Unit Desa sebagai suatu kelompok tani untuk memperkuat posisi tawar petani. Dari kedua alternatif tersebut, penulis menambahkan satu alternatif yaitu Koperasi Unit Desa menjadi pesaing tengkulak agar strutur monopsoni di tingkat petani berubah menjadi struktur persaingan murni.
Alternatif yang telah banyak dikemukakan oleh para analis ekonomi pertanian untuk perbaikan posisi tawar petani dari kondisi monopsoni tersebut umumnya adalah (1) Menggantikan peran pedagang dengan lembaga lain, yaitu Koperasi Unit Desa, (2) Para petani membentuk Koperasi Unit Desa sebagai suatu kelompok tani untuk memperkuat posisi tawar petani. Dari kedua alternatif tersebut, penulis menambahkan satu alternatif yaitu Koperasi Unit Desa menjadi pesaing tengkulak agar strutur monopsoni di tingkat petani berubah menjadi struktur persaingan murni.
B.
Analisis
Teoritis
Alternatif pertama adalah Menggantikan peran pedagang dengan lembaga lain, yaitu Koperasi Unit Desa. Alternatif tersebut akan berjalan baik apabila KUD tersebut lebih mementingkan misi peningkatan pendapatan para petani dibanding dengan misi profit oriented. Tetapi manakala KUD tergoda untuk lebih mementingkan profit oriented dibandingkan dengan misi untuk meningkatkan pendapatan para petani maka para petani akan tetap berada pada kondisi monopsoni.
Alternatif yang kedua adalah para petani membentuk Koperasi Unit Desa sebagai suatu kelompok tani untuk memperkuat posisi tawar petani. Alternatif tersebut akan menciptakan struktur pasar bilateral monopoli. Keadaan struktur bilateral monopoli digambarkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Pembentukan Harga pada
Petani, Pedagang dan Pasar komoditi pertanian pada Pasar Bilateral monopoli
Dari Gambar 2, penetapan harga di tingkat petani terjadi dua penetapan,
yaitu Ppt dan Ppt1. Pedagang dengan kedudukan monopsoni menetapkan harga
Ppt, sedangkan kelompok tani dengan kedudukan monopoli menetapkan harga Ppt1.
Berdasarkan acuan teori ekonomi mikro, struktur bilateral monopoli tidak akan tercapai penetapan harga yang ekulibrium. Dengan tidak tercapainya penetapan harga yang ekulibrium, maka akan terjadi kesulitan dalam penetapan harga. Kesulitan tersebut akan meningkatkan biaya transaksi sehingga akhirnya akan mengurangi efesiensi pasar di tingkat petani.
Bila dua alternatif tersebut secara teoritis kurang baik dalam upaya peningkatan posisi tawar petani, maka alternatif lain adalah membuat struktur pasar di tingkat petani menjadi struktur pasar persaingan murni. Hal itu dilaksanakan dengan mengurangi kekuasaan monopsoni pedagang/tengkulak. Pengurangan kekuasaan monopsoni dilakukan dengan menyertakan KUD sebagai pesaing tengkulak. Dengan menyertakan KUD sebagai pesaing maka struktur pasar ditingkat petani akan berubah dari struktur pasar monopsonistik menjadi persaingan murni. Struktur pasar persaingan murni di tingkat petani dapat digambarkan pada Gambar 3.
Berdasarkan acuan teori ekonomi mikro, struktur bilateral monopoli tidak akan tercapai penetapan harga yang ekulibrium. Dengan tidak tercapainya penetapan harga yang ekulibrium, maka akan terjadi kesulitan dalam penetapan harga. Kesulitan tersebut akan meningkatkan biaya transaksi sehingga akhirnya akan mengurangi efesiensi pasar di tingkat petani.
Bila dua alternatif tersebut secara teoritis kurang baik dalam upaya peningkatan posisi tawar petani, maka alternatif lain adalah membuat struktur pasar di tingkat petani menjadi struktur pasar persaingan murni. Hal itu dilaksanakan dengan mengurangi kekuasaan monopsoni pedagang/tengkulak. Pengurangan kekuasaan monopsoni dilakukan dengan menyertakan KUD sebagai pesaing tengkulak. Dengan menyertakan KUD sebagai pesaing maka struktur pasar ditingkat petani akan berubah dari struktur pasar monopsonistik menjadi persaingan murni. Struktur pasar persaingan murni di tingkat petani dapat digambarkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Pembentukan Harga pada
Petani, Pedagang dan Pasar pada Struktur Persaingan Murni
Pada Gambar 3, pasar "persaingan murni", kurva permin-taan
komoditi pertanian untuk pedagang dan petani adalah datar karena para petani
dan pedagang adalah pe-nerima harga. Akibatnya bila ada kenaikan harga di
pasar maka para petani dan pedagang sebagai penerima har-ga akan mengikuti
harga di pa-sar komoditi pertanian.
Pada Gambar 3, dimisalkan kurva permintaan me-ning-kat dari D ke D' sehingga harga di pasar komoditi p-ertanian meningkat dari Pps menjadi P'ps. Dalam pasar "persaingan murni", baik petani maupun pedagang adalah pe-nerima harga, maka kenaikan harga di pasar komoditi p-ertanian diikuti secara proporsional di ting-kat petani dan pedagang. Dengan kenaikan harga yang proporsional tersebut maka kenaikan harga hasil pertanian akan terserap pada kenaikan pendapatan di tingkat petani, bukan pada keuntungan pedagang/tengkulak.
Penutup
Dari hasil analisis secara teoritis yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa alternatif ketiga lebih baik dari dua alternatif kesatu dan kedua. Dengan demikian untuk meningkatkan posisi tawar petani perlu dibuat suatu struktur pasar yang bersaing murni dengan mengurangi kekuatan monopsoni tengkulak melalui pembentukan lembaga pemasaran saingan yaitu KUD.
Pada Gambar 3, dimisalkan kurva permintaan me-ning-kat dari D ke D' sehingga harga di pasar komoditi p-ertanian meningkat dari Pps menjadi P'ps. Dalam pasar "persaingan murni", baik petani maupun pedagang adalah pe-nerima harga, maka kenaikan harga di pasar komoditi p-ertanian diikuti secara proporsional di ting-kat petani dan pedagang. Dengan kenaikan harga yang proporsional tersebut maka kenaikan harga hasil pertanian akan terserap pada kenaikan pendapatan di tingkat petani, bukan pada keuntungan pedagang/tengkulak.
Penutup
Dari hasil analisis secara teoritis yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa alternatif ketiga lebih baik dari dua alternatif kesatu dan kedua. Dengan demikian untuk meningkatkan posisi tawar petani perlu dibuat suatu struktur pasar yang bersaing murni dengan mengurangi kekuatan monopsoni tengkulak melalui pembentukan lembaga pemasaran saingan yaitu KUD.
Pustaka
Branson, Robert E. & Douglas G. Norvell (1983),
Introduction to Agricultural Marketing, McGraw-Hill Book Company, New York, USA.
Da Costa, G.C (1980) Production Prices and Distribution
Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi, India.
Dahl, Dale C and Jerome W. Hammond. (1977). Market
and Price Analysis of The Agricultural industries. McGraw-Hill Company. New York. USA.
Hirsshleifer, Jack. (1985). Teori Harga dan
Penerapannya (Price Theory and Application). Edisi III. Terj. Kusnedi. Penerbit Erlangga Jakarta.
Kohls, Richard L and Joseph Uhl. (1972) Marketing of
Agricultural Products . Fith Edition. Macmillan Publishing Co. Inc. New York. USA.
Branson, Robert E. & Douglas G. Norvell (1983),
Introduction to Agricultural Marketing, McGraw-Hill Book Company, New York, USA.
Da Costa, G.C (1980) Production Prices and Distribution
Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi, India.
Dahl, Dale C and Jerome W. Hammond. (1977). Market
and Price Analysis of The Agricultural industries. McGraw-Hill Company. New York. USA.
Hirsshleifer, Jack. (1985). Teori Harga dan
Penerapannya (Price Theory and Application). Edisi III. Terj. Kusnedi. Penerbit Erlangga Jakarta.
Kohls, Richard L and Joseph Uhl. (1972) Marketing of
Agricultural Products . Fith Edition. Macmillan Publishing Co. Inc. New York. USA.
sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar