Kamis, 20 Juni 2013

pasar monopolistik dan oligopolisti



Tugas Ekonomi Mikro
Resume pasar monopolistik dan oligopolistik
Nama : Hamka Jamal
Nim : D31121263
Prodi : MNA gol C

A.    Pengertian pasar monopilistik
Pasar Monopolistik adalah salah satu bentuk pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang serupa tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspek. Penjual pada pasar monopolistik tidak terbatas, namun setiap produk yang dihasilkan pasti memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan produk lainnya. Contohnya adalah : sabun, shampoo, pasta gigi, dll. Meskipun fungsi semua pasta gigi sama yakni untuk membersihkan gigi, tetapi setiap produk yang dihasilkan produsen yang berbeda memiliki ciri khusus, misalnya perbedaan aroma, perbedaan warna, kemasan, dan lain-lain.

B.     Karakteristik Pasar Monopolistik
Pasar Monopolistik memiliki ciri-ciri yang melekat , yaitu :
1.      Terdapat banyak produsen atau penjual. Meskipun demikian, pasar ini tidak memiliki produsen atau penjual sebanyak pasar persaingan sempurna dan tidak ada satu pun produsen yang mempunyai skala produksi yang lebih besar dari produsen lainnya.
2.      Adanya Diferensiasi Produk. Sifat ini merupakan sifat yang sangat penting untuk dapat membedakan mana pasar persaingan monopolistik dan mana pasar persaingan sempurna . Seperti yang telah kita ketahui bahwa pasar persaingan sempurna seluruh perusahaan nya memproduksi produk yang sama. Oleh karena itu susah untuk membedakan produk suatu perusahaan dengan perusahaan yang lain. Sedangkan dalam pasar persaingan monoplistik  tidak susah untuk membedakan produk dari masing-masing perusahaan, karena perbedaan corak(different product) pada produk tersebut. Apabila kita lihat secara fisik suatu product , akan tanpak jelas perbedaan tersebut. Maka kita dapat membedakan mana  produk suatu perusahaan dengan product perusahaan yang lainnya. Di samping perbedaan dalam bentuk fisik , juga terdapat perbedaan dalam bentuk bungkus atau pembungkusan product, dan ada pula yang berbeda dalam cara membayar barang yang akan di beli. Akibat dari berbagai macam perbedaan ini , barang yang di  produksi oleh perusahaan pasar monopolistis ini tidak bersifat barang pengganti sempurna akan tetapi ia bersifat barang pengganti yang dekat.
3.      Produsen Dapat mempengaruhi harga. Berbeda dengan Pasar Persaingan Sempurna, dimana harga terbentuk berdasarkan mekanisme pasar, maka pasar monopolistik dapat mempengaruhi harga meskipun tidak sebesar pasar oligopoli dan monopoli.
4.      Produsen dapat keluar masuk pasar. Hal ini dipengaruhi oleh laba ekonomis, saat produsen hanya sedikit di pasar maka laba ekonomisnya cukup tinggi. Ketika produsen semakin banyak dan laba ekonomis semakin kecil, maka pasar menjadi tidak menarik dan produsen dapat meninggalkan pasar.
5.      Promosi penjualan harus aktif. Dalam pasar persaingan monopolistis harga bukanlah penentu utama dari besarnya pasar dari perusahaan- perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis. Pada pasar ini memungkinkan suatu perusahaan menarik banyak pelanggan walaupun harga barang produksinya berharga tinggi. Bahkan sebaliknya , suatu perusahaan tidak mudah menarik banyak pelanggan dengan harga barang produksi yang relatif rendah. Pada pasar ini harga bukan merupakan pendongkrak jumlah konsumen, melainkan kemampuan perusahaan menciptakan citra baik dimata konsumen, sehingga dapat menimbulkan fanatisme terhadap produk. Karenanya, iklan dan promosi memiliki peran penting dalam merebut dan mempertahankan konsumen.


C. Keuntungan dan Kerugian Pasar Monopolistik
Pasar Monopolistik memiliki keuntungan sebagai berikut :
  1. Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan bagi konsumen untuk dapat memilih produk yang terbaik baginya.
  2. Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong produsen untuk selalu melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya.
  3. Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk selektif dalam menentukan produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat konsumen loyal terhadap produk yang dipilihnya.
  4. Pasar ini relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar kebutuhan sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik.
Selain itu, Pasar Monopolistik juga memiliki kelemahan sebagai berikut :
  1. Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan yang tinggi, baik dari segi harga, kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki modal dan pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari pasar.
  2. Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk ke dalam pasar monopolistik, karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala ekonomis yang cukup tinggi.
  3. Pasar ini mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan meningkatkan biaya produksi yang akan berimbas pada harga produk yang harus dibayar oleh konsumen.



A.     Analisis Struktur Monopsoni di Tingkat Petani

            Misalkan di tingkat petani terdapat pedagang yang melakukan transaksi dengan petani dalam struktur monopsoni. Dalam struktur ini diasumsikan pedagang mempunyai kekuasaan penuh terhadap komoditi yang dijual petani, tetapi pedagang berada pada struktur pasar persaingan murni pada transaksi dengan pasar komoditi pertanian secara agregat (pedagang tak dapat mempengaruhi pasar komoditi pertanian secara agregat, tapi hanya menguasai transaksi di tingkat petani). Selain itu untuk memudahkan analisis, diasumsikan tidak terdapat biaya pemasaran dan pengolahan sehingga harga  di pedagang sama dengan harga di pasar sentra pro-dusen.  Dengan demikian dari penyeder-hanaan tersebut maka dapat digambarkan seperti pada Gambar 1
Gambar 1. Pembentukan Harga pada Petani, Pedagang dan Pasar komoditi pertanian pada Pasar "Monopsoni"
Keterangan :
SS  =   Kurva penawaran di pasar komoditi pertanian
DD    =   Kurva permintaan di pasar komoditi pertanian
D'D'  =   Kurva permintaan di pasar komoditi pertanian
 setelah berubah
Pps    = Harga  komoditi pertanian di pasar komoditi pertanian
P'ps   = Harga  komoditi pertanian di pasar komoditi pertanian
 setelah perubahan permintaan
Qps   = Jumlah  yang di perjual-belikan di pasar sentra  produsen
Q'ps   = Jumlah komoditi pertanian yang di perjual-belikan di pasar komoditi pertanian setelah perubahan permintaan
Ppp   =  Harga komoditi pertanian di tingkat pedagang
P'pp  =  Harga komoditi pertanian di tingkat pedagang setelah perubahan permintaan
Qpp   =  Kuantitas komoditi pertanian yang dijual pedagang
Q'pp  =  Kuantitas komoditi pertanian yang dijual pedagang setelah perubahan permintaan
Ppt   = Harga komoditi pertanian di tingkat petani
P'pt  = Harga komoditi pertanian di tingkat petani
Qpt   =  Kuantitas komod-iti pertanian yang dijual petani
Q'pt  =  Kuantitas komod-iti pertanian yang dijual petani setelah perubahan permintaan
MCpt  =  Biaya marjinal usahatani milik petani
ACpt  =  Biaya rata-rata usahatani milik petani
MCpp  =  Biaya marjinal usaha pedagang
ACpp  =  Biaya rata-rata usaha pedagang
Pada struktur pasar monopsoni di tingkat petani, pedagang adalah pe-nentu harga.  Pada struktur monopsoni pedagang akan menetapkan harga sama dengan biaya rata-rata usahatani. Penetapan harga tersebut lebih rendah dari pada harga di pasar komoditi pertanian.  Akibatnya Ppt lebih rendah daripada Pps wa-laupun tidak ada biaya pemasaran maupun pengolahan.  Perbedaan harga ini disebut sebagai eksploitasi "monop-soni", di mana pedagang mendapat "rent seeking" atau ke-un-tungan karena "monopsoni".  Keadaan ini jelas akan me-rugikan petani dan akan menurunkan pendapatan pe-ta-ni. Apabila harga di pasar komoditi pertanian meningkat dari Pps menjadi P'ps,  kenaikan harga di tingkat pe-tani hanya meningkat dari Ppt menjadi P'pt.  Hal itu disebab-kan dalam pasar "monopsoni", pedagang adalah penentu harga, sehingga harga di tingkat petani lebih dipenga-ruhi oleh penetapan harga peda-gang dibandingkan dengan harga pasar.  Dengan demikian walaupun terjadi kenaikan harga di pasar komoditi pertanian, kenaikan harga tersebut lebih terserap kepada keuntungan pedagang dibandingkan dengan penyerapan untuk kenaikan pendapatan petani.
 Alternatif yang telah banyak dikemukakan oleh para analis ekonomi pertanian untuk perbaikan posisi tawar petani dari kondisi monopsoni tersebut umumnya adalah (1) Menggantikan peran pedagang dengan lembaga lain, yaitu Koperasi Unit Desa, (2) Para petani membentuk Koperasi Unit Desa sebagai suatu kelompok tani untuk memperkuat posisi tawar petani. Dari kedua alternatif tersebut, penulis menambahkan satu alternatif yaitu Koperasi Unit Desa menjadi pesaing tengkulak agar strutur monopsoni di tingkat petani berubah menjadi struktur persaingan murni.

B.     Analisis Teoritis

            Alternatif pertama adalah Menggantikan peran pedagang dengan lembaga lain, yaitu Koperasi Unit Desa.  Alternatif tersebut akan berjalan baik  apabila KUD tersebut lebih mementingkan misi peningkatan pendapatan para petani dibanding dengan misi profit oriented.  Tetapi manakala KUD tergoda untuk lebih mementingkan profit oriented dibandingkan dengan misi untuk meningkatkan pendapatan para petani maka para petani akan tetap berada pada kondisi monopsoni.
 Alternatif yang kedua adalah para petani membentuk Koperasi Unit Desa sebagai suatu kelompok tani untuk memperkuat posisi tawar petani. Alternatif tersebut akan menciptakan struktur pasar bilateral monopoli.  Keadaan struktur bilateral monopoli digambarkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Pembentukan Harga pada Petani, Pedagang dan Pasar komoditi pertanian pada Pasar Bilateral monopoli
Dari Gambar 2, penetapan harga di tingkat petani terjadi dua penetapan, yaitu Ppt dan Ppt1.  Pedagang dengan kedudukan monopsoni menetapkan harga Ppt, sedangkan kelompok tani dengan kedudukan monopoli menetapkan harga Ppt1.      
 Berdasarkan acuan teori ekonomi mikro, struktur bilateral monopoli tidak akan tercapai penetapan harga yang ekulibrium.  Dengan tidak tercapainya penetapan harga yang ekulibrium, maka akan terjadi kesulitan dalam penetapan harga.  Kesulitan tersebut akan meningkatkan biaya transaksi sehingga akhirnya akan mengurangi efesiensi pasar di tingkat petani.
 Bila dua alternatif tersebut secara teoritis kurang baik dalam upaya peningkatan posisi tawar petani, maka alternatif lain adalah membuat struktur pasar di tingkat petani menjadi struktur pasar persaingan murni. Hal itu dilaksanakan dengan mengurangi kekuasaan monopsoni pedagang/tengkulak. Pengurangan kekuasaan monopsoni dilakukan  dengan menyertakan KUD sebagai pesaing tengkulak. Dengan menyertakan KUD sebagai pesaing maka struktur pasar ditingkat petani akan berubah dari struktur pasar monopsonistik menjadi persaingan murni.   Struktur pasar persaingan murni di tingkat petani dapat digambarkan pada Gambar 3.
Gambar 3. Pembentukan Harga pada Petani, Pedagang dan Pasar pada Struktur Persaingan Murni
Pada Gambar 3, pasar "persaingan murni", kurva permin-taan komoditi pertanian untuk pedagang dan petani adalah datar karena para petani dan pedagang adalah pe-nerima harga.  Akibatnya bila ada kenaikan harga di pasar maka para petani dan pedagang sebagai penerima har-ga akan mengikuti harga di pa-sar komoditi pertanian.           
 Pada Gambar 3, dimisalkan kurva permintaan me-ning-kat dari D ke D' sehingga harga di pasar komoditi p-ertanian meningkat dari Pps menjadi P'ps. Dalam pasar "persaingan murni", baik petani maupun pedagang adalah pe-nerima harga, maka kenaikan harga di pasar komoditi p-ertanian diikuti secara proporsional di ting-kat petani dan pedagang.  Dengan kenaikan harga yang proporsional tersebut maka kenaikan harga hasil pertanian akan terserap pada kenaikan pendapatan di tingkat petani, bukan pada keuntungan pedagang/tengkulak.           
Penutup
 Dari hasil analisis secara teoritis yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa alternatif ketiga lebih baik dari dua alternatif kesatu dan kedua.  Dengan demikian untuk meningkatkan posisi tawar petani perlu dibuat suatu struktur pasar yang bersaing murni dengan mengurangi kekuatan monopsoni tengkulak melalui pembentukan lembaga pemasaran saingan yaitu KUD.














Pustaka
Branson, Robert E. & Douglas G. Norvell (1983),
Introduction to Agricultural Marketing, McGraw-Hill Book Company, New York, USA.
Da Costa, G.C (1980) Production Prices and Distribution
Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi, India.
Dahl,  Dale C and  Jerome W. Hammond. (1977).   Market
and Price Analysis of The Agricultural industries. McGraw-Hill Company. New York. USA.
Hirsshleifer, Jack. (1985).   Teori Harga dan
Penerapannya  (Price Theory and Application). Edisi III. Terj. Kusnedi. Penerbit Erlangga Jakarta.
Kohls, Richard L and Joseph Uhl.  (1972)   Marketing of
Agricultural Products . Fith Edition. Macmillan Publishing Co. Inc. New York. USA.
sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar